“Saat ini semuanya bagiku hanya menunggu dan merindu. Aku menunggu keberanian itu datang, menunggu kesempatan. Aku rindu pula pada masa-masa ketika aku tidak perlu menunggu, tidak perlu canggung.
“Salahku waktu itu aku tidak bisa denganmu. Salahku waktu itu aku benci kamu. Harusnya aku sadar dulu tidak semua orang mengerti apa arti menunggu.
“Aku sekarang yang menunggu. Aku yang sekarang merindu keajaiban. Hanya keajaiban yang membawa kamu kembali. Sudah tak ada lagi apapun tentangku dalam matamu, tak ada lagi sinar yang diiringi senyum itu ketika kamu bicara denganku.
“Aku tak lagi rindu apapun, kecuali aku rindu kamu.
“Mungkin jejak itu layak dihapus ketika kamu tidak mau lagi. Layak sekali, karena tak sekali aku memintamu menunggu. Sudah bukan kesempatan kedua, ini sudah kesempatan keseribu. Aku rindu kamu, aku rindu.
“Sekarang aku yang bertanya-tanya apa jejak itu sudah kamu hapus atau hanya perasaanku yang tidak menentu. Apa perasaanku yang salah atau perasaanmu yang tak ada lagi untukku.
“Aku ingat lagi waktu itu waktu kamu bertemu lagi denganku, kebetulan yang betul-betul dibuat. Waktu itu masih ada senyummu untukku. Tapi tak ada lagi keluar kata rindu yang aku susun baik-baik sebelumnya. Aku rindu kamu, aku rindu semuanya.
“Tapi nanti pasti kita tidak bersama lagi, nanti kita akan saling benci lagi. Nanti aku benci kamu, dan kamu tetap benci aku. Andai kata rindu itu keluar, andai ada kesempatan ke seribu satu.”