would somebody steal me like Anthony stole Johanna? would you? would you? no? okay.

banyak hal yang cuma terjadi di FTV dan film korea. jangan ditontonlah, orang kayak kami biasanya patah hati setelah berharap. dan bagi orang kayak kami, ‘biasanya’ berarti ‘selalu’.

apa, ya, yang tepat?

oke frontal

kadang-kadang kita tertarik sama sesuatu yang baru kita temukan. entah dari bungkusnya, warnanya, bentuknya, atau rasanya.atau matanya…

kadang-kadang juga kita tidak tau apa yang biasanya kita tau saat melihat sesuatu. misalnya kadang-kadang seekor anjing yang biasanya tahu seonggok daging itu ada yang punya atau tidak tiba-tiba tidak tahu itu daging milik anjing lain atau bukan. ya gampangnya… ah, gak gampang.

ah capeklah aku, pusing aku mikirnyapun. gimana nanti.

whatever will be will be

saya lagi jadi sayur asin

tau sayur asin?

asinan sawi, biasa dimasak pake daging babi. tapi berhubung sekarang saya udah gak makan babi dan gak akan makan babi lagi selamanya, saya tumis sayur asin itu. 

sayur asin itu enak banget sungguh

saya sukanya sayur asin itu jangan terlalu empuk, harus masih agak keras.

kembali lagi ke saya lagi jadi sayur asin, bukan saya suka sayur asin

saya itu rasanya lagi tidak bergaram tidak bergula, tapi punya rasa sendirian

kata beberapa orang dekat, saya lagi berasa banget

iya, bagi mereka

bagi saya mereka hambar, tidak bergaram tidak bergula

NGERTI GAK?

waktu saya tanya hal serupa sama satu teman saya, dia jawab, 

ngerti kok, ngerti, tenang ajalah, kamu bukan orang paling susah dimengerti

seenggaknya buat saya

“Saat ini semuanya bagiku hanya menunggu dan merindu. Aku menunggu keberanian itu datang, menunggu kesempatan. Aku rindu pula pada masa-masa ketika aku tidak perlu menunggu, tidak perlu canggung.

“Salahku waktu itu aku tidak bisa denganmu. Salahku waktu itu aku benci kamu. Harusnya aku sadar dulu tidak semua orang mengerti apa arti menunggu.

“Aku sekarang yang menunggu. Aku yang sekarang merindu keajaiban. Hanya keajaiban yang membawa kamu kembali. Sudah tak ada lagi apapun tentangku dalam matamu, tak ada lagi sinar yang diiringi senyum itu ketika kamu bicara denganku.

“Aku tak lagi rindu apapun, kecuali aku rindu kamu.

“Mungkin jejak itu layak dihapus ketika kamu tidak mau lagi. Layak sekali, karena tak sekali aku memintamu menunggu. Sudah bukan kesempatan kedua, ini sudah kesempatan keseribu. Aku rindu kamu, aku rindu.

“Sekarang aku yang bertanya-tanya apa jejak itu sudah kamu hapus atau hanya perasaanku yang tidak menentu. Apa perasaanku yang salah atau perasaanmu yang tak ada lagi untukku.

“Aku ingat lagi waktu itu waktu kamu bertemu lagi denganku, kebetulan yang betul-betul dibuat. Waktu itu masih ada senyummu untukku. Tapi tak ada lagi keluar kata rindu yang aku susun baik-baik sebelumnya. Aku rindu kamu, aku rindu semuanya.

“Tapi nanti pasti kita tidak bersama lagi, nanti kita akan saling benci lagi. Nanti aku benci kamu, dan kamu tetap benci aku. Andai kata rindu itu keluar, andai ada kesempatan ke seribu satu.”

1 note 

pantai timur

ombak itu perlu batu pemecah ombak

supaya pecah

supaya tidak menghancurkan

batu pemecah ombak itu butuh ombak

supaya bebas

supaya tidak seperti sebelumnya

aku butuh kamu

seperti ombak butuh batu pemecah ombak

apa kamu butuh aku?

1 note